entrepreneur dalam sejarah Nusantara,

 

Entrepreneur dalam sejarah nusantara

A.    Pengertian Enterpuner

Entrepreneur adalah sesorang yang melakukan proses menciptakan sesuatu yang baru agar bisa bernilai bisnis. Menurut Zimmerer. Enterpreuner adalah seseorang yang berani menghadapi ketidak pastian dan resiko terhadap bisnis yang sedang dijalakan. Menurut Rhenald Kasali entrepuner adalah pengusaha yang bisa melihat peluang dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa enterpreuner adalah pengusah yang dapat memebrikan perubahan dalam mengembangkan suatu bisnis.

B.     Entrepreneur Dalam Sejarah Nusantara

Wirausaha secara historis sudah diperkenalkan oleh Richard castiln sejak tahun 1755 diluar negeri, istilah kewirausaaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di indoensia baru dikenal pada akhri abad 20.Munculnya entrepreneur dan budaya entrepreneurship di Indonesia semakin terasa ketika keberadaan entrepreneur menjadi salah satu syarat utama kemajuan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara. Ciputra misalnya, sebagaimana di kutip oleh Riant Nugroho menyepakati pendapat David Mc Clelland yang berpendapat bahwa suatu negara akan menjadi makmur apabila memiliki sekurang-kurangnya 2% dari jumlah penduduk. Selain itu, fenomena pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini ternyata di dominasi oleh kalangan entrepreneur.

Entrepreneur atau kewirausahaan merupakan suatu cara yang telah lama dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menambah kesejahteraan hidupnya. Aktivitas kewirausahaan di Roma pada abad ke-50 SM meliputi fungsi pengendalian sosial, peraturan, dan kelembagaan. Aktivitas perdagangan dipandang sebagai hal yang dapat menurunkan martabat, dan dianggap mengumpulkan model untuk kepentingan politik, dan sosial (Respati, 2009: 213). Kebutuhan akan pangan yang merupakan kebutuhan primer bagi man usia sudah ada sejak zaman pra aksara, dimana manusia pada zaman tersebut berusaha mencari sumber pangan dengan nomaden (berpindah tempat), mengumpulkan makanan, bercocok tanam, dan meramu makanan. Semakin berkembangnya zaman maka manusia memiliki kebutuhan yang lebih, kebutuhan tersebut yang memaksa manusia untuk memperoleh sesuatu yang tidak ada pada dirinya maka terciptalah perdagangan dengan sistem barter. Perdagangan ini pun akhirnya merambah antar pulau sehingga membawa pengaruh agama seperti Hindu-Budha di Nusantara, yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan seperti Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan maritim sangat tergantung akan perdagangan dengan melakukan ekspor kamper, resin, kayu gaharu dan rempah-rempah dengan cara barter. Pedagang dari India dan Arab yang membawa porselin, sutera, emas, perak, dan lain-lain (Kee-Long, 1998: 298-308).

Menurut fakta sejarah, sejak ratusan tahun lalu sebagian besar atau mayoritas masyarakat Indonesia hidup  dari pertania. Hanya mereka yang didaerah pantai sering terlibat dengan perdagangan kecil-kecilan dan belum pernah memasuki tingkat perdagangan intrenasional dengan ukuran skala ekonomi. Menurut mereka bahwa pada zaman dahulu para pedagang Indonesia telah aktif berdagang rempah-rempah sampai Gujarat, teluk Arab, dan madagaskar. Namun, kalau dikaji secara teliti kegiatan perdagangan ini lebih mengarah pada kegiatan petualang tanpa kesinambungan bisnis dalam ukuran dagang modern. kemudian Indonesia didatangkan orang protugis, disusul kongsi dagang belanda (voc),dan perjajahan belanda, ingris, serta jepang yang semakin melumpuhkan kegiatandunia usaha orang Indonesia baik yang menyangkut menyangkut perdagangan lokal, antar pulau, maupun perdagangan Internasional. Keadaan ini semakin parah lagi dengan kebijakan Belanda memakai orang Cina sebagai pedagang perantara demi memudahkan penjajahan Belanda di Indonesia. Kebijakan penjajah Belanda yang tidak mendorong lahirnya perundang-undangan dan ketentuan yang memberi dorongan munculnya para pengusaha dan wirausaha di kalangan rakyat Indonesia

          Dari segi kehidupan ekonomi keadaan di Indonesia hingga 1945 kurang menguntungkan karena:

Ø  Monopoli kekuasaan di perusahaan Belanda.

Ø  Kedudukan istimewa keturunan Cina di dunia usaha.

Ø  Luas pasar yang terbatas.

Ø  Kurangnya komunikasi.

Dari sejarah, kita mencatat lahirnya Serikat Islam, yang asal-usulnya ditujukan untuk mendobrak monopoli (seperti yang disebut di atas), terutama di dunia perdagangan. Kemudian, setelah kemerdekaan pemerintah RI menyadari bahwa dalam mengisi kemerdekaan harus juga ditopang dengan perkembangan dunia usaha yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri.

Pada saat ini, Negara Indonesia masih dikatakan sebagai Negara berkembang. Hal ini disebabakan oleh berbagi masalah yang terdapat di Indonesia. Misalnya pendapatan penduduk yang rendah, banyaknya penganguran, dan kondisi ekonomi dan social yang tertinggal dibandingkan dengan Negara maju. Banyak hal yang harus dibenahi peemrinahan Indonesia untuk dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteran rakyatnya. Kita lihat saja padatnya penduduk di kota besar seperti Jakarta misalnya, menyebabkan sempitnya lapangan pekerjaan yang tetap dan tidak memiliki kemampauan berwirausaha akan memiliki pendapatan yang rendah dan tidak mencukupi kebutuhan keluarga.jika hal tersebut belum dapt terselasaikan maka perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat menjadi Negara maju.

Dengan terbukanya ekonomi perdagangan di pusat-pusat perdagangan dunia Islam, yang asal-usulnya ditujukan untuk mendobrak monopoli (seperti yang disebut di atas), terutama di dunia perdagangan. Kemudian, setelah kemerdekaan pemerintah RI menyadari bahwa dalam mengisi kemerdekaan harus juga ditopang dengan perkembangan dunia usaha yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri. Dalam mewujudkan hal ini hingga 1965 kita amati adanya usaha pemerintah mendorong tumbuhnya pengusaha Indonesia terutama di kalangan pribumi lewat, Pengeluaran lisensi istimewa:

Ø  Memberi kemudahan mendirikan perusahaan

Ø  mendapat izin impor ekspor

Ø  Kemudahan  mendapat kredit           

Ø  Propaganda pembentukan koperasi, dekret ekonomi

Ø  Pembuatan beberapa peraturan atau undang-undang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional

Pendirian dan pembukaan sekolah kejurusan dan kursus di bidang usaha sebagai sarana penunjan, untuk meningkatkan peminat generasi muda untuk menjadi entrepeuner.

 

 

-          Abas sunarya, sudaryono dan Asep Saefulloh, 2011. Judul: KEWIRAUSAHAAN. Penerbit CV Andi Offset: Yogyakarta.

 



Komentar

Posting Komentar